Bertetangga adalah kumpulan beberapa keluarga pada lingkungan yang sama, juga bisa dianggap sebuah miniatur negara, yang dilembagakan dengan sebutan Rukun Tetangga (RT). Seperti juga halnya bernegara dalam skup yang lebih besar, di dalam Rukun Tangga juga harus memiliki kesadaran antara hak dan kwajiban orang-orang yang menjadi anggotanya. Dan itu kerap kali kurang mendapat perhatian terutama warga perkotaan, seperti Jakarta, yang umumnya cuek satu sama lain. Bayangkan, rumah berdempetan saja belum tentu saling kenal dan mau mengenal. Berpapasan saja belum tentu mau bertegur sapa. Lalu bagaimana ya jika salah satu tetangga tengah ditimpa musibah, entah itu rumahnya kemasukan maling, ada yang meninggal dunia, kebakaran, sdb...Apa iya kenalan dulu baru minta tolong..?? berbasa- basi dulu ngalor-ngidul baru minta bantuan..??
Untuk itu biasanya Kepala Rukun Tetangga membuat program-program yang mempererat rasa kebersamaan warganya, entah itu membentuk kegiatan arisan, senam jantung sehat, kegiatan keagamaan , dsb. Tapi lucu-nya banyak Kepala Rukun Tetangga yang gaya-nya kayak pejabat tinggi; nggak mau blusukan kerumah-rumah tetangganya. Kalau ketemu warga pasang muka angker, biar orang tau kalau beliau seorang pejabat, walau tingkat paling bawah. Bahkan ada lho, seorang Kepala Rukun Tetangga yang sampai nggak punya waktu sama sekali untuk ngurus surat-surat kebutuhan warganya. Warga butuh tanda tangan malah diwakilkan sama istri atau anaknya. Tapi entah kalau ada warga yang butuh tanda tangan untuk ngurus jual rumah atau tanah...?? Kalau yang ini mungkin Pak Rt selalu sempat. Ngobyek brooo...ngobyek....!
Kalau warganya dibiarkan, maka tidak ada pilihan lain selain tiap tetangga harus bisa mengurus dirinya atau keluarganya sendiri. Di situlah asal muasal munculanya rasa cuek antar tetangga, bahkan sampai pada tarap berlebihan. Jika ada yang jatuh sakit atau ada yang meninggal dunia diusahakan di urus sendiri. Nggak perlu koar-koar ketetangga. Tapi apa iya kalau ada yang meninggal dunia sama sekali nggak merepotkan tetangga ..?? semisal, mayatnya di suruh mandi sendiri, pakai kain kapan sendiri dan berangkat kepemakaman sendiri.
Semandiri-mandirinya kita dalam hidup tetap saja kita butuh hati tetangga, masih diperlukan rasa empati antar tetangga, semisal nggak mengeraskan sound saat tetangga ada yang jatuh sakit atau ada yang meninggal dunia. Terlebih kalau ada tetangga yang lagi sakit gigi, mungkin bisa nekat ngacak-acak jemuran tetangga. Belum lagi jika salah satu tetangga kita ada yang kemasukan maling. Masa kita biarkan maling masuk rumahnya, apa lagi sampai mempersilahkannya masuk...Maka itu, bertetanggalah.
Bagi kaum ibu-ibu yang rumahan nampaknya masih lumayan kepekaan hidup bersosialnya. Kalau kepapasan dengan sesamanya masih mau menyapa;" Eee..mpook mau kemaneee ...??
" Ini bu de...Mau beli sayuran..."
" Bareng dong. "
Biasanya kalau sudah saling sapa, saling kirim-kirim makanan, maka terbangunlah rasa kebersamaannya di antara mereka. Sama-sama ibu-ibu maksudnya..Sama-sama ditinggal suami bekerja. Hari-hari berikutnya mulai deh ngajak ngerumpi, mulai deh ngajak rujakan. Mulai deh cari kawan buat manjat pohon mangga di halaman rumah orang ( yang ini ngarang bgt, sorry ), mulai deh bertukar informasi warung sembako yang harganya lebih miring, mulai deh arisan, mulai deh ngajak jalan-jalan ke mall...Dan seterusnya..dan seterusnya. Itu semua sikap yang bagus untuk menjaga rasa persatuan dan kesatuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar